BIOGRAFI ZAKARIYA AR-RAZI (SANG KIMIAWAN & PERINTIS KEDOKTERAN ISLAM)
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Persia: أبوبكر الرازي) atau
dikenali sebagai Rhazes di dunia barat
merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930. Ia
lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.
Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan
kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di
Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah
sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.
r-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serba bisa dan
dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.
Biografi
Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Masehi dan
meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Masehi. Nama Razi-nya berasal dari nama
kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi
Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini juga, Ibnu Sina
menyelesaikan hampir seluruh karyanya.
Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tapi dia
kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30, ar-Razi
memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai
eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter
yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu
kedokteran.
Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan
filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang
kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi
pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu'tashim.
Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal
sebagai seorang dokter disana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy
pada masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Ar-Razi juga menulis
at-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa
tahun kemudian, ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan
menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad.
Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan
untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan
murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan
gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal
sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat
kepadanya.
Pendidikan
Al Razi
pertama kali belajar pada orang tuanya sendiri yang bernama Diyauddin, beliau
adalah seorang ulama yang cukup dikagumi di masyarakat Ray. Dari ayahnya ia
belajar Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Kalam (Theologi).
Beliau belajar filsafat, teologi ke dua ulama, yaitu
Muhammad al Baghwi dan pada Majduddin al Jilli, serta mempelajari ilmu fiqih
dan Ushul fiqih dari al Kamal as Samani. Berkat ketekunan, baik dalam mendekati
para ulama terkemuka maupun dalam mentela’ah sendiri (disebutkan sejumlah buku
seperti buku asy Syamil karangan Juwaini tentang Ilmu Kalam, buku al Mustafa
karangan al Gazali tentang Ushul fiqih, dan al Mu’tamad karangan abu Husain al
Basri tentang ilmu Ushul Fiqih, bukan saja dibaca akan tetapi ia menghafalnya),
ia berhasil menjadi ensklopedis yang sulit ditandingi.
Al Razi mempelajari Ilmu Ushul Fiqih bersama Ayahnya. Ayahnya belajar kepada
Abu Al Qashim Sulaiman ibn Nashir. Abu Al Qashim sulaiman ibn Nashir belajar
dari imam Haramain Abu Al Ma’aly al Isfarayainy. Dan ia belajar dari al Syaikh
al Sunnah Abu Hasan Ali Ibn Ismail al al Asy’ary.
Al Razi mempelajari Ilmu Fiqih dari ayahnya juga, ayahnya belajar kepada Abu Muhammad
al Husain al Marzawy dan Husain Al Marzawy belajar dari Al Qafal. Al Qafal
belajar dari abu Ishaq al Marzawy. Kemudian abu Ishaq al Marzawy belajar kepada
Abu Abbas ibn Suraij (Ahmad ibn Umar), Abu Abbas ibn Suraij belajar kepada Abu
Qashim al Inmahthy dan Abu Qashim al Inmahathy, ia belajar dari imam Syafi’i.
Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan
filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang
kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi
pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu'tashim.
Penemu Sabun
Sabun telah di kenal oleh umat Islam sejak abad ke 9 Masehi. Dikenalkan pertama
kali oleh ilmuwan Muslim yang bernama Ar-Razi atau di Barat sebagai Razes.
Menurut Razi untuk membuat sabun di butuhkan campuran beragam minyak tumbuhan
(diantaranya minyak zaitun) dan mencampurnya dengan sodium hidroksida serta
bahan-bahan aromatik seperti thyme.
Betapa hebatnya para ilmuwan Muslim terdahulu. Mereka telah benar-benar
menerapkan salah satu sabda Rasulullah SAW bahwa “Kebersihan itu sebagian dari
iman”. Selain Ar-Razi, para ahli kimia Muslim abad pertengahan juga telah
menemukan sabun wangi yang berwarna serta sabun cair. Bahkan baru-baru ini
telah ditemukan sebuah manuskrip dari abas ke 13 yang berisi tata cara
pembuatan sabun secara lebih mendetail. Berikut penjelasannya:
“Sediakan sejumlah minyak wijen, sedikit potash,
alkali dan beberapa jeruk lemon. Kemudian, campur dan rebus bahan-bahan
tersebut. Setelah masak, tuangkan campuran penas tersebut dalam cetakan lalu
biarkan sampai menjadi dingin. Maka jadilah sabun batangan”
Sungguh mengherankan bila di Eropa pada abad pertengahan para raja dan kalangan
bangsawan masih menggunakan air seni manusia untuk mencuci baju dan mandi,
peradaban Islam telah menikmati sabun dalam bentuk batangan. Tapi ironisnya,
sumbangsih peradaban Islam ini tidak disebutkan dalam banyak buku sejarah
penemuan dunia. Kurun waktu dari abad ke 1 hingga 15 diloncati begitu saja seolah-olah
lima belas abad itu tidak ada artinya.
Harga sabun pada 981 M berkisar tiga Dirham (koin
perak) atau setara 0,3 Dinar (koin emas). Resep pembuatan sabun di dunia Islam
juga telah ditulis seorang dokter terkemuka dari Andalusia--Spanyol Islam--bernama Abu Al-Qasim Al-Zahrawi alias Abulcassis (936-1013 M).
Ahli kosmetik ini memaparkan tata cara membuat sabun dalam kitabnya yang
monumental bertajuk, Al-Tasreef.
Al-Tasreef merupakan ensiklopedia kedokteran yang terdiri atas 30 volume. Kitab
itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan sebagai buku
referensi utama di sejumlah universitas Eropa terkemuka. Sang dokter memaparkan
resep-resep pembuatan beragam alat kosmetik pada volume ke-19 dalam kitab
Al-Tasreef.
Selain itu, resep pembuatan sabun yang lengkap tercatat dalam sebuah risalah
bertarikh abad 13 M. Manuskrip itu memaparkan secara jelas dan detail tata cara
pembuatan sabun. Fakta ini menunjukkan betapa dunia Islam telah jauh lebih maju
dibandingkan peradaban Barat. Masyarakat Barat, khususnya Eropa, diperkirakan
baru mengenal pembuatan sabun pada abad ke-16 M.
Namun, Sherwood Taylor (1957) dalam bukunya berjudul, A History of Industrial
Chemistry, menyatakan, peradaban Barat baru menguasai pembuatan sabun pada abad
ke-18 M. Sejatinya, menurut RJ Forbes (1965) dalam bukunya bertajuk, Studies in
Ancient Technology, campuran yang mengandung sabun telah digunakan di
Mesopotamia.
"Mereka belum mengenal sabun, tapi beberapa deterjen telah
digunakan," ungkap Forbes. Menurut dia, dunia klasik belum memiliki
deterjen yang lebih baik. Penemuan sabun yang tergolong modern memang baru
diciptakan pada masa kejayaan Islam.
Sejarah pembuatan sabun di dunia Islam dicatat secara baik oleh Raja Al-
Muzaffar Yusuf ibn `Umar ibn `Ali ibn Rasul ( wafat 1294 M). Dia adalah seorang
Raja Yaman yang berasal dari Dinasti Bani Rasul yang kedua. Raja Al-Muzaffar
merupakan seorang penguasa yang senang mempelajari karya-karya ilmuwan Muslim
dalam bidang kedokteran, farmakologi, pertanian, dan tekonologi.
Raja Al-Muzaffar juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Pada masa kekuasaannya
di abad ke-13 M, ia mendukung dan melindungi para ilmuwan dan seniman untuk
berkreasi dan berinovasi. Dalam risalahnya, sang raja mengisahkan bahwa Suriah
sangat dikenal sebagai penghasil sabun keras yang biasa digunakan untuk
keperluan di toilet.
N Elisseeff dalam artikelnya berjudul, Qasr al-Hayr al-Sharqi, yang dimuat
dalam Ensiklopedia Islam volume IV menyatakan, para arkeolog menemukan bukti
pembuatan sabun dari abad ke-8 M. Saat itu, kekhalifahan Islam sedang menjadi
salah satu penguasa dunia.
Geografer Muslim kelahiran Yerusalem, Al-Maqdisi, dalam risalahnya berjudul,
Ahsan al-Taqasim fi ma`rifat al-aqalim, juga telah mengungkapkan kemajuan
industri sabun di dunia Islam. Menurut Al-Maqdisi, pada abad ke-10, Kota Nablus
(Palestina) sangat termasyhur sebagai sentra industri sabun. Sabun buatan
Nablus telah diekspor ke berbagai kota Islam.
Menurut Al-Maqdisi, sabun juga telah dibuat kota-kota lain di kawasan
Mediterania, termasuk di Spanyol Islam. Andalusia dikenal sebagai penghasil
sabun berbahan minyak zaitun. M Shatzmiller dalam tulisannya bertajuk,
al-Muwahhidun, yang tertulis dalam Ensiklopedia Islam terbitan Brill Leiden,
juga mengungkapkan betapa pesatnya industri sabun berkembang di dunia Islam. "Pada
1200 M, di Kota Fez (Maroko) saja terdapat 27 pabrik sabun," papar
Shatzmiller.
Sherwood Taylor, dalam Medieval Trade in the Mediterranean World menyebutkan,
pada abad ke-13 M, sabun batangan buatan kota-kota Islam di kawasan Mediterania
telah diekspor ke Eropa. Pengiriman sabun dari dunia Islam ke Eropa, papar
Taylor, melewati Alps ke Eropa utara lewat Italia.
Selain sabun, dunia Islam pun telah menggenggam teknologi pembuatan beragam
alat kosmetik. Salah satunya adalah parfum. Umat Islam di zaman kekhalifahan
juga telah mengembangkan teknologi pembuatan parfum hingga menjadi sebuah
industri yang sangat besar.
Para sejarawan meyakini bahwa fondasi industri minyak wangi yang berkembang
pesat di dunia Islam dibangun oleh dua ahli kimia termasyhur, yakni Jabir Ibnu
Hayyan (721-815 M) serta Al-Kindi (805-873 M). Kimiawan Muslim dari abad ke-12,
Al-Isybili, mengungkapkan, pada masa kejayaan Islam terdapat tak kurang dari
sembilan buku teknis dan pedoman bagi pengelola industri parfum.
Meski begitu, kitab tentang pengolahan minyak wangi atau parfum yang masih
tersisa hanyalah Kitab Kimiya' al-'Itr (Book of the Chemistry of Perfume and
Distillations) karya Al-Kindi.
Jauh sebelum Al-Kindi, pengembangan industri parfum di dunia Islam juga sempat
dilakukan 'Bapak Kimia Modern' Jabir Ibnu Hayyan. Ia mengembangkan beberapa
teknik, termasuk penyulingan (distilasi), penguapan (evaporation), dan
penyaringan (filtrasi). Ketiga teknik itu mampu mengambil aroma wewangian dari
tumbuhan dan bunga dalam bentuk air atau minyak.
Teknik dan metode dasar yang diletakkan oleh Jabir itu dikembangkan Al-Kindi.
Ia melakukan riset dan eksperimen dengan lebih cermat. Al-Kindi mencoba
mengombinasikan beragam tanaman dan bahan-bahan lain untuk memproduksi beragam
jenis parfum dan minyak wangi. Ilmuwan Muslim asal Kufah, Irak, itu pun
berhasil menemukan tak kurang dari 107 metode dan resep untuk membuat parfum
serta peralatan pembuatannya.
Begitulah, dunia Islam di era keemasan telah mampu mengembangkan industri sabun
dan juga parfum.
Resep Sabun Warisan Peradaban Islam
Minyak zaitun dan al-Qali merupakan bahan utama pembuatan sabun. Bahan lain
yang kerap digunakan untuk membuat sabun adalah natrun. Lalu, bagaimana proses
pembuatan sabun dilakukan di dunia Islam pada abad ke-13 M? Berikut ini resep
pembuatan sabun yang ditulis Daud Al-Antaki seperti dikutip Ahmad Y Al-Hassan
dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Technology: An Illustrated
History:
Inilah cara membuat sabun yang diwariskan peradaban Islam:
Ambil satu bagian al-Qali dan setengah bagian kapur. Giling dengan baik,
kemudian tempatkan dalam sebuah tangki. Tuangkan air sebanyak lima bagian dan
aduk selama dua jam. Tangki dilengkapi lubang bersumbat. Setelah pengadukan
berhenti dan cairan menjadi jernih, lubang ini dibuka.
Jika air sudah habis, sumbat kembali lubang tersebut, tuangkan air dan aduk,
kosongkan dan seterusnya sampai tak ada lagi air yang tersisa. Faksi air di
setiap periode dipisahkan. Lalu, minyak yang sudah murni diambil sebanyak 10
kali jumlah air yang pertama tadi, lalu letakkan di atas api. Jika sudah
mendidih, tambahkan air faksi terakhir sedikit demi sedikit. Kemudian tambah
dengan air faksi nomor dua terakhir, sampai air faksi pertama.
Dari proses itu, akan diperoleh campuran seperti adonan kue. Adonan ini
disendok (dan disebarkan) di atas semacam tikar hingga kering sebagian.
Kemudian, tempatkan dalam nura (kapur mati). Inilah hasil akhir dan tidak
diperlukan lagi pendinginan atau pencucian dengan air dingin selama proses.
Ada kalanya ditambahkan garam ke dalam al-Qali dan kapur sebanyak setengah kali
jumlah kapur. Selain itu, juga ditambhakan amilum tepat sebelum proses selesai.
Minyak di sini dapat diganti dengan minyak lain dan lemak seperti minyak
carthamus.
Itulah salah satu resep pembuatan sabun yang berkembang di dunia Islam.
Sejatinya, masih banyak risalah lain yang mengungkapkan formula pembuatan
sabun. Salah satunya adalah buah pikir Al-Razi.
Bidang Kedokteran
Cacar dan Campak
Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang
pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar:
"Cacar terjadi ketika darah 'mendidih' dan
terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian
darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi
darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap
ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit
ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa.
Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan
penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi."
Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang
menulis: "Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang
adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes,
dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang
dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah
tersebut."
Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar
dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai
dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam
Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan
kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara
berpikir ar-Razi dalam buku ini.
Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi: "Kemunculan
cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal
pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah
ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh.
Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada
muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada
seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan."
Alergi dan Demam
Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit "alergi
asma", dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada
salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah
mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang
menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.
Farmasi
Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti
tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal
dari merkuri.
Metode Pengobatan
Metode pemanasan syaraf dan pengobatan penyakit kepala pening. adalah Ar-Razi,
dokter pertama kali yang melakukan kedua hal tersebut. Selain itu, ia juga
diduga sebagai dokter pertama yang mendiagnosa penyakit tekanan darah
tinggi.
·
Metode kai,
yaitu pengobatan serupa akupuntur. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang
titik-titik penting pada tubuh manusia untuk pengobatan. Caranya, ia menusuk
titik tersebut dengan sebatang besi yang pipih dan runcing, yang sebelumnya
telah dipanaskan dengan minyak mawar atau minyak cendana.
·
Penggunaan
kayu pengapit dan penyangga (spalk) untuk keperluan patah tulang,
·
Pserta
injeksi erethal(saluran kencing dan sperma).
·
Lebih jauh
lagi, ia menguraikan tentang jenis sakit perut yang disebutnya batr (potong)
dan fatg (koyak)
Etika Kedokteran
Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika kedokteran. Salah
satunya adalah ketika dia menkritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang
berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat yang sama dia juga
menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit
dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi
sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi
menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru.
Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak
bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa
disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat
berat. Sebagai tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada
dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan suka tidak
mematuhi perintah sang dokter.
Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik,
bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.
Bidang Filosofi
Dia mendapati berbagai ilmu tak lepas dari metode
pikirnya yang di atas rata-rata orang biasa. Ini tak bisa lepas dari
kesukaannya dalam berfilsafat. Yang membawanya menjadi manusia muslim yang
hebat. Ada beberapa karakternya dalam berfilsafat:
Logika
Ar-Razi adalah seorang rasionalisme murni, dan beliau
hanya mempercayai kekuatan akal. Bahkan didalam bidang kedokteran study klinis
yang dilakukannya setelah menemukan metode yang kuat dengan berpijak kepada
observasi dan eksperimen.
Bahkan pujian kepada Ar-Razi terhadap akal tampak sangat jelas pada halaman
pertama pada bukunya At-Thibb.
Beliau mengatakan, Allah segala puji baginya, yang telah memberikan akal agar
dengan-Nya kita dapat memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat. Inilah karunia
terbaik Allah kepada kita. Akal adalah suatu yang mulia dan penting karena
dengan akal kita dapat memperoleh pengetahuan tentang tuhan. Maka tidak boleh
melecehkannya.
Moral
Adapun pemikiran Ar-Razi tentang moral sebagaimana
tertuang dalam buku At-Thibb al-ruhani dan Al-Sirah al-Falsafiyyah, bahwa tingkah laku itu
berdasarkan dari akal. Hawa nafsu harus berada dibawah kendali akal dan agama.
Beliau memperingatkan bahaya minuman khamr yang dapat merusakkan akal dan
melanggar agama.
Berkaitan dengan jiwa, Ar-Razi menjadikan jiwa sebagai salah satu alasan
pengobatan baginya. Menurutnya antara tubuh dan jiwa terhadap suatu hubungan
yang sangat erat, misalnya: emosi jiwa tidak akan terjadi kecuali dengan
melalui pengamatan indrawi.
Sedangkan kebahagiaan menurut Ar-Razi adalah kembalinya apa yang telah
tersingkir karena sesuatu yang berbahaya, misalnya: orang yang meninggalkan
tempat yang teduh menuju tempat yang disinari matahari. Ia akan senang ketika
kembali ke tempat yang teduh tadi.
Kenabian/ Theologi
Ar-Razi menyangkah bahwa anggapan bentuk kehidupan
manusia memerlukan nabi sebagaimana yang dikatakannya dalam bukunya Naqd al-Adyan au fi al-Nubuwah. Beliau mengatakan bahwa
beliau tidak percaya kepada wahyu dan adanya nabi. Menurutnya para nabi tidak
berhak mengklaim dirinya sebagai orang yang memiliki keistimewaan khusus.
Karena semua orang adalah sama dan keadilan tuhan secara hikmahnya mengharuskan
tidak membedakan antara seoranng dengan yang lainnya.
Ar-Razi juga mengritik kitab suci baik injil maupun al-quran. Beliau menolak mukjizat al-quran baik segi isi maupun
gaya bahasanya. Menurutnya orang mungkin saja dapat menulis kitab yang lebih
baik dengan gaya, bahasa yang lebih indah. Kendatipun demikian, Ar-Razi tidak
berati seorang atheis, karena beliau masih menyakini adanya Allah.
Metafisika
Filsafat Ar-Razi dikenal dengan ajaran “Lima kekal”
yaitu:
1. Allah Ta’ala
Allah bersifat sempurna. Tidak ada kebijakan setelah tidak sengaja, karena itu
ketidak sengajaan tidak bersifat kepada-Nya.
Kehidupan berasal dari-Nya sebagaimana sinar datang dari matahari Allah
mempunyai kepandaian yang sempurna dan murni. Kehidupan ini adalah mengalir
dari ruh. Allah menciptakan sesuatu dan tidak ada yang bisa yang menandingi dan
tidak ada yang bisa menolak kepada-Nya. Allah Maha Mengetahui, segala sesuatu.
Tetapi ruh-ruh hanya mengetahui apa yang berasal dari eksperimen. Tuhan
mengetahui bahwa ruh cenderung pada materi dan membutuhkan kesenangan materi.
2. Ruh
Allah tidak menciptakan dunia lewat desakan apapun tetapi Allah memutuskan
penciptaan-Nya setelah pada mulanya tidak berkehendak tidak menciptakannya,
Allah menciptakan manusia guna menyadarkan ruh dan menunjukkan kepadanya, bahwa
dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya dalam arti haqiqi.
Manusia tidak akan mencapai dunia haqiqi ini, kecuali dengan filsafat, mereka
mempelajari filsafat, mengetahui dunia haqiqi, memperoleh pengetahuan akan
selamat dari keadaan buruknya. Ruh-ruh tetap berada dalam dunia ini sampai
mereka disadarkan oleh filsafat akan rahasia dirinya.
Melalui filsafat manusia dapat memperoleh dunia yang sebenarnya, dunia sejati
atau dunia haqiqi.
3. Materi
Menurut Ar-Razi kemutlakan, materi pertama terdiri dari atom-atom, setiap atom
mempunyai volum yang dapat dibentuk. Dan apabila dunia ini dihancurkan, maka ia
akan terpisah-pisah dalam bentuk atom-atom. Dengan demikian materi berasal dari
kekekalan, karena tidak mungkin menyatakan suatu yang berasal dari ketiadaan
sesuatu.
Untuk memperkuat pendapat ini Ar-Razi memberikan 2 bukti yaitu:
·
Penciptaan
adalah bukti dengan adanya sang pencipta.
·
Berlandaskan
ketidak mungkinan penciptaan dan ketiadaan.
4. Ruang
Menurut Ar-Razi ruang adalah tempat keadaan materi, beliau mengatakan bahwa
materi adalah kekal dan karena materi itu mempunyai ruang yang kekal.
Bagi Ar-Razi ruang terbagi menjadi 2 yakni waktu universal (mutlak) dan waktu
tertentu (relatif ), ruang universal adalah tidak terbatas dan tidak tergantung
kepada dunia dan segala sesuatu yang ada didalamnya. Sedangkan ruang yang
relatif adalah sebaliknya.
5. Waktu
Adalah subtasi yang mengalir, ia adalah kekal. Ar-Razi membagi waktu 2 macam
yakni waktu mutlak dan waktu relatif (terbatas). Waktu mutlak adalah
keberlangsungan, ia kekal dan bergerak. Sedang gerak relatif adalah gerak
lingkungan-lingkungan, matahari dan bintang gemintang.
Karya Emas
Ar-Razi menghasilkan karya yang sangat populer yang
sampai membuat kalangan istana kekristenan Eropa menaruh perhatian besar.
Setelah peristiwa Perang Salib, raja-raja di Eropa memerintahkan agar semua
karya ar-Razi diterjemahkan dalam bahasa Latin, yang merupakan bahasa resmi
ilmu pengetahuan Eropa pada masa itu.
Ia juga berhasil menemukan cara membuat alkohol. Di kemudian hari, penemuan
tersebut ditindaklanjuti oleh Arnol Pilinov. Pada abad XIII, alkohol menjadi
populer.
Sekitar 200-an buku lebih telah beliau sumbangkan pada kemajuan dunia ini;
1. Dalam bidang kedokteran:
·
Hidup yang
Luhur (Arab: الحاوي)
·
Petunjuk
kedokteran untuk masyarakat umum (Arab: من لا يحضره الطبيب), Pengobatan Alternatif
Ketika Tidak Ada Dokter
·
Keraguan
pada Galen
·
Penyakit
pada anak
·
Kitab
al-Mansoori, yang terdiri dari 10 jilid, membahas secara detil tentang
pengobatan era Arab-Yunani
·
Al-Havi,
ensiklopedia kedokteran yang terbesar disusun pada masa itu
·
Kitab
al-Mulooki dan
·
Kitab
al-Judari wa al-Hasabah, di kitab ini Ar-Razi untuk pertama kalinya membahas
penanganan penyakit cacar.
·
al-Thibbur
Ruhani (Pengobatan Rohani),
2. Dalam bidang kimia:
·
Kitab al
Asrar, yang membahas tentang teknik penanganan zat-zat kimia dan manfaatnya.
·
Liber
Experimentorum, Ar-Razi membahas pembagian zat kedalam hewan, tumbuhan dan
mineral, yang menjadi cikal bakal kimia organik dan kimia non-organik.
·
Penemuannya
yang lain adalah teknik pembuatan asam sulfur serta penggunaan alkohol untuk
fermentasi zat yang manis.
3. Dalam bidang ilmu kalam, ia mengarang :
·
al Muthalib
al ‘Aliyah min al Ilmi al Ilahi,
·
Asas Al
Taqdis,
·
al Arbain
fii ushul al Din,dan
·
Muhassal
afkar al Mutaqaddimin wal al Mutaaakhkhirin min ulama wal Hukama wal al
mutakalimin.
4. Dalam bidang tasawuf , diantaranya :
·
al Irsyad al
Nadhar ilaa lathaif al Asrar, dan
·
Syarah ‘Uyun
al Hikmah
5. Dalam bidang filsafat, diantaranya :
·
Syarah Qishm
al Ilahiyyah min al Isyarat li ibn Sina,
·
Syarah al
Isyrah wa al Tanbihat li ibn Sina,
·
Syarah al
Qanun li ibn Sina, dan
·
Lubab al
Isyarat.
6. Dalam bidang sejarah
·
Manaqib al
Imam Syafi’I, dan
·
Syarah Saqt
al Zind li al Mu’ri
7. Dalam bidang Ushul Fiqih
·
al mahsul
fii ilmi Ushul Fiqih, dan
·
al Ibthal al
Qiyasi.
8. Dalam bidang tafsir
·
al asrar al
Tanzil wa anwaru al ta’wil
·
ihkam al
ahkam,
·
al Burhan Fi
Qirrati al Qur’an,
·
Dzurrtu al
Tazil wa al Ghurratu al Ta’wil fii ayat Mutasyabihat
·
al Bayan wa
al Burhan fii al Radd’ ala ahli wa Thugyan.
·
tafsir
Ar-Razi
Juga Beliau mengarang lain kitab,diantaranya
·
Al-Shirath
al-dawlah
·
Amarah
al-Iqbal al-Dawlah
·
Kitab
al-Ladzdzah
·
Kitab
al-‘Ilm al-Ilahi
·
Maqalah fi
ma ba’d al-Thabi’iyyah; dan
·
Al-Shukuk
‘ala Proclus
Adapun diantara karya tulis yang paling besar adalah
buku Tafsir yang berjudul Mafatih Al Ghaib,
yang disebut juga al Tafsir al Kabir (Tafsir
Besar) yang terdiri atas belasan jilid melalui karya tafsirnya itu ia berupaya
mencurahkan segenap ilmunya yang ensklopedis. Melalui ayat-ayat yang menyentuh
bidang filsafat, ia tuangkan bahasan-bahasan yang bersifat filsafi, melalui
ayat-ayat yang menyentuh bidang teologi, ia tuangkan bahasan yang bersifat
teollogi, dan tidak lupa tujuan membenarkan paham Asy’ariyah, melalui ayat-ayat
yang menyentuh bidang fiqih, ia menyajikan perbincangan-perbincangan masalah
fiqih dan seterusnya.
Melalui tafsirnya ia tuangkan bahwa dalam Al-Quran itu mengandung berbagai
aspek kehidupan dan realitas, menghendaki penguasaan banyak bidang pengetahuan
bagi siap saja, baik secara sendiri-sendiri atau bekerjasama yang ingin
menyingkapkan maksud al-Qur’an secara lengkap. Karena disana mengandung
berbagai macam disiplin ilmu.
Disamping kitab-kitab tersebut, masih banyak terdapat karya-karya beliau berupa
manuskrip baik dalam tulisan Arab maupun tulisan Persia, Demikianlah Al Razi
dalam karyanya.
Wafat
Al- Razi
adalah orang yang murah hati, sayang pada pasien-pasiennya, dermawan kepada
orang-orang miskin, karena itu ia memberikan pengobatan sepenuhnya tanpa
meminta bayaran sedikitpun. Jika tidak bersama murid dan pasiennya, ia selalu
menghabiskan waktunya untuk menulis dan belajar.(Syarif, ed.1996:33)
Mungkin ini yang menyebabkan penlihatannya berangsur-angsur melemah dan
akhirnya ia menjadi buta. Ada yang mengatakan sebab kebutaanya karena banyak
makan buncis (Baqilah).(Syarif, ed.1996:33)
Penyakitnya bermula dari rabun dan akhirnya menjadi buta sama sekali. Ia pun
menolak untuk di obati. Dan mengatakan bahwa pengobatan itu akan sia-sia
belaka, karena sebentar lagi ia akan meninggal dunia.
Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/ 27
Oktober 925 M.(Syarif, ed.1996:33)
Menurut H.G Wells (sarjana Barat terkenal), para ilmuwan muslim merupakan
golongan pertama yang mengasas ilmu kimia. Jadi tidak heran jika sekiranya
mereka telah mengembangkan ilmu kimia selama sembilan abad bermula dari abad
kedelapan masehi.
Ada cerita menarik tentang dirinya. Pada suatu hari
seorang dokter datang untuk mengobati matanya. Sebelum memulai, dokter tersebut
ditanya oleh Ar-Razi tentang jumlah jaringan mata. Seketika itu dokter tersebut
gemetar dan diam tidak bisa menjawab, maka Ar-Razi pun menyela, “Barang siapa yang tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tidak
sepantasnya memegang peralatan dan memain-mainkannya di mata saya.”
Pesan-Pesannya:
“Obatilah penyakit pada saat muncul gejala awalnya
dengan sesuatu yang tidak menghilangkan energi pasien. Hal ini disepakati oleh
para dokter dan telah terbukti secara empiris!”
“Apabila seorang dokter mampu mengobati dengan makanan tanpa obat, maka hal itu
sejalan dengan prinsip kebahagiaan.”
“Sebaiknya seorang pasien hanya berobat kepada satu orang dokter saja, karena
kemungkinan kelirunya akan lebih kecil.”
“Umur tidak cukup untuk mengetahui khasiat setiap tumbuhan yang yang ada di
muka bumi. Dari itu pilihlah yang sudah terkenal. Hal inipun telah disepakati
oleh para dokter dan terbukti secara empiris!”
“Kebenaran dalam kedokteran adalah suatu tujuan yang tidak mungkin dicapai,
mengobati dengan hanya bersandarkan kepada buku tanpa kemahiran seorang ahli
adalah tindakan yang berbahaya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar